Membuat SIM C Baru

Pemalang, 28 Juni 2010

Pada hari ini saya mengurus pembuatan SIM C alias SIM untuk pengendara sepeda motor. Dengan asumsi bahwa akan terjadi antrian yang panjang di kantor Satlantas Pemalang, saya berinisiatif untuk berangkat lebih pagi. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul setengah sembilan dan sampai di kantor Satlantas Pemalang pukul sembilan pagi. Dan seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, sudah terdapat antrian panjang, terutama di loket SIM.

Saya langsung mendatangi loket SIM dengan membawa berkas persyaratan pembuatan SIM, yaitu surat pengantar dari desa dan fotokopi kartu identitas/KTP. Oleh petugas loket, saya diperintahkan untuk membuat sertifikat mengemudi di sebuah lembaga yang terletak di depan kantor Satlantas Pemalang. Saya nurut saja dan ketika saya melihat diagram alur pembuatan SIM memang terdapat bagian yang mensyaratkan sertifikat mengemudi. Hanya saja, yang aneh adalah proses pembuatan sertifikat tersebut yang bisa dibilang ekspres. Hanya dalam waktu sekitar 10 menit sertifikat tersebut langsung jadi. Soal legalitas ?? entahlah…sepertinya sih tidak legal๐Ÿ˜€. Ya…mungkin bisa disamakan dengan ijasah palsu, tidak kuliah tapi tinggal bayar dan langsung dapat ijasah. “Harga” sertifikat itu sendiri 150 ribu rupiah. Hemmm..mahal sekali ya… Setelah membuat sertifkat instan tersebut, saya kembali ke loket pendaftaran dan oleh petugas pendaftaran, pendaftaran tersebut langsung diproses dan saya diberi formulir pendaftaran dan disuruh untuk menuju ke ruang ujian AVIS.

Ruang ujian AVIS (Audio VISual?) terletak di bagian belakang kantor Satlantas Pemalang. Di ruangan ini terdapat 4 petugas dan satu buah komputer sebagai media untuk melaksanakan ujian yang dilengkapi dengan in Focus. Selain itu terdapat 40-60 kursi tempat peserta ujian. Di kursi ini terdapat dua tombol, yaitu sebelah kiri untuk jawaban salah dan sebelah kanan untuk jawaban benar. Materi pada ujian AVIS ini berkaitan dengan aturan lalu lintas dengan tipe jawaban benar atau salah. Setiap soal ditampilkan ke layar dan peserta diberikan waktu untuk menjawab selama 12 detik untuk satu soal. Total keseluruhan ada 30 soal. Pertanyaan yang ada dalam ujian AVIS ini sebenarnya tidak terlalu sulit jika kita sudah memahami aturan lalu lintas yang berlaku. Saya sendiri masih kurang paham dengan aturan lalu lintas secara detail. Namun, karena tipe soalnya benar-salah maka saya bisa main kira-kira atau tebak-tebakan. Dan ternyata, hasil dari kira-kira dan tebakan saya adalah tidak lulus (malu-maluin ya… :D). Standar kelulusan untuk ujian AVIS ini adalah 24 soal benar, sedangkan jawaban saya yang benar hanya 23 soal. Dari enam peserta ujian, hanya ada satu peserta yang lulus (untunglah…bukan cuma saya yang tidak lulus :D). Saya dan empat peserta lain yang tidak lulus dipanggil oleh petugas dan diberi penjelasan bahwa bagi peserta yang tidak lulus harus melakukan ujian ulang 14 hari sesudah ujian yang gagal. Namun, pernyataan itu masih koma, belum titik, karena ada tapinya, yaitu tapi, petugas bisa “membantu meluluskan peserta daripada harus datang lagi dan membuat sertifikat yang mahal itu lagi”. Kami pun mengikuti “saran” dari petugas tersebut untuk “dibantu” agar diluluskan dari ujian AVIS.

Tahap berikutnya setelah ujian AVIS sebenarnya adalah ujian praktek mengendarai motor. Namun, karena petugas beranggapan bahwa yang membuat SIM sudah bisa mengendarai sepeda motor, maka ujian praktek ini ditiadakan (horeee… :D). Karena tidak ada ujian praktek, maka tahap selanjutnya adalah pemeriksaan kesehatan. Oleh petugas di ruangan ujian AVIS kami diminta untuk menuju ke klinik yang terletak di sebelah utara Kantor Satlantas dan jika sudah melakukan pemeriksaan kesehatan, kami diminta untuk kembali ke ruangan ujian AVIS lagi. Saya beserta empat peserta yang tidak lulus pun menuju klinik. Di sana pemeriksaan yang dilakukan hanya mengecek tensi darah, hanya itu saja, tidak ada cek kesehatan lain. Aneh memang. Dan yang lebih aneh, kami diminta membayar 20 ribu rupiah untuk pemeriksaan tersebut. Setelah diperiksa, kami diberi surat keterangan sehat dan kemudian kami kembali lagi ke ruang ujian AVIS sesuai yang diperintahkan oleh petugas tadi. Petugas di ruang AVIS mengatakan bahwa dia akan “membantu membayarkan” biaya pembuatan SIM ke kasir BRI sebesar 140 ribu rupiah. Padahal, tarif baru pembuatan SIM adalah 100 ribu rupiah. Yang 40 ribu buat apa?? Emm…mungkin sebagai balas jasa dengan mengubahkan data kami yang awalnya tidak lulus menjadi lulus. Ya…itulah konsekuensi dari tidak lulus ujian AVIS. Saya dan peserta yang lain pun nurut saja.

Setelah “lulus” dari ujian AVIS, dianggap lulus dari ujian praktek, dan pemeriksaan kesehatan yang aneh, tahap selanjutnya adalah pengambilan foto alias sesi pemotretan. Sebenarnya proses pengambilan fotonya tidak lama. Justru waktu menunggu giliran untuk sesi pemotretan yang lama. Wajar saja, karena hanya ada satu ruang foto sedangkan pemohon SIM sangat banyak. Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu jam, giliran saya tiba. Saya dan pemohon SIM yang mendapat panggilan yang berbarengan dengan saya masuk ke ruang foto. Di sana ada 3 petugas yang masing-masing menghadap satu buah komputer. Satu petugas bagian mencetak kartu SIM, satunya lagi yang di tengah bagian memfoto, dan satu lagi saya kurang tahu bagiannya apa. Kami dipanggil satu per satu dan dicocokkan data pribadi masing-masing. Selain itu, kami juga diminta untuk membubuhkan sidik jari jempol kiri dan kanan serta tanda tangan elektronis. Setelah sesi pemotretan (seperti model saja :D), saya menuju loket pendaftaran. Di loket ini memang SIM yang tadi dicetak di ruang foto dibagikan. Tidak terlalu lama saya menunggu pembagian SIM, kurang dari 10 menit mungkin dan Sim salabim….SIM saya pun sudah di tangan. Hehhh…lega juga. Setelah proses yang cukup melelahkan disertai banyak keanehan dan biaya yang cukup mahal dibandingkan dari tarif aslinya (total biaya yang saya keluarkan adalah 310 ribu rupiah), SIM saya yang pertama kali jadi juga.

5 thoughts on “Membuat SIM C Baru

  1. salam, salam kenal yo.

    hmm.. jiann uapik tnan yo satlantas iku, ng ndi2 meh podho ae, satlantas kab.kendal apa lagi. Pernah gara2 tarif perpanjangan SIM yg tertulis beda dg yg di “ucapkan” petugas, huda g jd memperpanjang SIM, akhirnya ya.. nekad aja g pake SIM, alhmdllh.. selama bbrp bulan selamat,๐Ÿ™‚ krn hny sesekali berkendara. Nah..

    • O y, salam kenal juga mas….๐Ÿ˜€
      Sebenernya klo cuma motor2an di Pemalang sih g butuh SIM mas coz jarang ada operasi Mas, tp karena mau bawa motor ke Surabaya jadi “terpaksa” buat SIM, hehe…

  2. Emang begitu aparat kita,lucu apa hubunganya bkin sim ama kseatan,klo yang di periksa mtanya msih memper soale arp nunggan motor…

  3. Itulah pemalang bikin sim c
    Ko hrs bikin sertifikat lembaga cursus
    Sama aja ajarin rakyat suap mn ada kursus
    Belajar naik motor pa apararat………???

  4. aku td ke satlantas pemalang mau bikin sim, uju AVIS gagal cuma 21 yg benar haha.. animasi bergeraknya sulit dimengerti,waktu buat jawab jg mepet bgt. dari 6 orang semuanya gagal, horeee haha
    Sekarang sih emang gak bisa cara SIM SALABIM om, kecuali udah kenal sama orang dalem xixixi.
    ujian teori aja gagal, gimana prakteknya bahhhhh. aku dah biasa pake motor matic lg, gimana klo dsuruh pake motor gigi ato bhkan motor kopling, :nohope

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s