Tes Wawancara…

Surabaya, 25 Juli 2009

Waktu yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Hari itu aku dan 13 peserta lainnya mengikuti tes wawancara seleksi penerimaan beasiswa S1 ilmu Komputer di gedung jurusan sistem informasi fakultas teknologi informasi ITS Surabaya. Sesuai dengan surat surat panggilan dari pusat tes wawancara akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Aku sendiri datang pada pukul 7 pagi dengan diantar oleh temenku-sigit-dengan menggunakan sepeda motor. Hari itu adalah hari sabtu dan perkuliahan juga belum dimulai sehingga lingkungan sekitar kampus terlihat cukup sepi. Aku datang bersamaan dengan satu peserta tes lainnya, mas Ali, yang datang dengan menggunakan sepeda motornya. Aku dan Mas Ali dengan diantar oleh seorang bapak–sepertinya petugas TU kampus ITS–ke lantai 2 gedung SI.

Sebelum pukul 8 semua peserta sudah berkumpul. Namun, saat itu pewawancara yang berasal dari bagian pengembangan belum juga datang. Kami akhirnya menunggu di lantai 2 gedung SI sambil kenalan dan ngobrol-ngobrol seperlunya. sekitar pukul 9 akhirnya pewawancara dari bag. pengembangan datang juga. Kami kemudian dikumpulkan di satu ruangan dan diberikan pengarahan terlebih dahulu mengenai pelaksanaan wawancara dan gambaran singkat mengenai jurusan yang akan kami ambil-ilmu komputer. berdasarkan penjelasan dari Mas Jordan–nama seorang pegawai bag.pengembangan–peserta wawancara dibagi menjadi 4 kelompok disesuaikan dengan pewawancaranya. Aku mendapatkan kelompok 2 urutan ke-3.

Satu per satu peserta dipanggil untuk mengikuti tes wawancara. Aku yang mendapatkan giliran agak akhir menunggu cukup lama. Pada saat menunggu giliranku tiba ini entah mengapa aku sering terasa mau ke belakang. Mungkin gara-gara grogi. Sekitar pukul 10 lebih giliranku datang juga. Aku masuk ke ruangan bareng Mas Novan dengan diantar oleh Pak Maringan (peg. bag pengembangan). Aku mencoba bersikap sesantai mungkin karena ini bukan lah pengalaman pertamaku diwawancara. Dulu, sebelum aku dan teman-teman seangkatanku ditempatkan ke daerah-daerah juga ada psikotes dan tes wawancara. tempat wawancara ternyata berada di satu ruangan hanya saja dibedakan mejanya saja. Aku diantar sampai meja pewawancaraku dan ternyata orang yang mewawancaraiku adalah Pak Syaiful Islam, orang yang juga mewawancaraiku dua tahun lalu. Dia ditemani satu orang lagi-saya tidak tahu namanya-sehingga ada dua orang mewawancarai satu orang. Aku mencoba tetap tenang dan bersikap sesantai mungkin. Tadi aku melihat pak Syaiful Islam menggunakan pakaian yang kelihatan santai dengan menggunakan sepatu yang tidak resmi juga. Hal ini membantuku untuk santai dan tenang dalam mengikuti wawancara itu.

Pada awal wawancara pewawancara memintaku memperkenalkan diri . Selanjutnya aku diminta menceritakan pengalamanku selama dua tahun lebih bekerja di KPPN Lubuk Linggau. Sampai tahap ini semua berjalan lancar. Suasana wawancara sesuai dengan yang kuinginkan: santai. Namun, semakin lama pertanyaan yang diajukan semakin kompleks dan ini membuatku agak hati-hati dalam menjawabnya. Di akhir wawancara, pewawancara memintaku menutup wawancara tersebut dengan menggunakan bahasa Inggris. Aku-yang bahasa inggrisnya pas-pasan-mengucapkan terimakasih kepada pewawancara dan berharap aku dapat lulus dari tes wawancara ini dan apabila lulus aku akan memberikan yang terbaik untuk DJPBN. Semua kukatakan dengan bahasa Inggris seadanya. Setelah itu, aku dipersilakan keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk, harap-harap penuh harap–bukan harap-harap cemas karena itu berarti aku takut gagal, padahal aku sangat berharap aku dapat lulus dari tes ini dan bisa kuliah lagi.

Sekitar jam setengah 12 siang, semua peserta sudah selesai mengikuti tes wawancara. kami kembali dikumpulkan di ruangan yang sama untuk mendapatkan pengarahan dari pak Syaiful Islam mengenai latar belakang diadakannya beasiswa ini dan orang-orang seperti apa yang dianggap pantas menerima program beasiswa ini. Pada saat itu aku bertanya pada diriku sendiri : apakah aku pantas menerima beasiswa ini sesuai dengan kriteria yang disebutkan pak Syaiful Islam. Aku agak ragu, tetapi tetap berusaha berpikir positif bahwa insya Allah aku lulus dari tes wawancara ini. Setelah pengarahan selesai dan setelah shalat dhuhur di Musholla Jurusan SI, kami pulang ke tempat masing-2 dengan harapan yang sama : semua lulus!!! Aku sendiri pulang dengan dijemput sigit ke rumahnya. Keesokan harinya–Minggu, 26 Juli 2009–aku kembali ke Linggau melalui bandara Juanda dengan harapan aku dan teman-temanku dapat kembali lagi ke surabaya untuk tujuan yang sama : kuliah lagi. Amiiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s