Ketika tidak memilih menjadi sebuah pilihan

Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 sudah di depan mata. Sekitar kurang dari dua bulan lagi hajatan demokrasi terbesar di Indonesia ini akan digelar. Berbagai persiapan baik oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara pemilu maupun para peserta pemilu (partai politik dan calegnya) sibuk dilakukan. KPU misalnya terus berkejaran dengan waktu untuk mempersiapkan logistik pemilu seperti kertas suara dan kotak suara. Sosialisasi mengenai tata cara pemilu juga gencar dilakukan. Seperti yang sudah kita ketahui, pemilu kali ini tidak lagi memilih dengan mencoblos gambar parpol/caleg melainkan dengan mencontreng. Sebuah perubahan yang tidak terlalu signifikan tentunya dan justru bisa berdampak negatif, yaitu banyaknya surat suara yang dinyatakan tidak sah karena ada kesalahan dalam pencontrengan. Oleh karena itu, sosialisasi tata cara pencontrengan ini memang patut menjadi perhatian khusus bagi KPU demi suksesnya pemilu kali ini.

Di pihak parpol sendiri, mendekati waktu pemilu kampanye baik yang dilakukan melalui media cetak maupun elektronik semakin gencar dilakukan. Namun, iklan parpol di televisi yang sering saya lihat hanya didominasi oleh partai besar dan partai-partai baru yang didukung dengan dana besar. Selain kampanye lewat media massa, kampanye juga dilakukan dengan pemasangan bendera dan atribut partai di pinggir-pinggir jalan. Hal ini memang sudah menjadi rutinitas setiap kali diadakan pemilu dan satu hal yang tidak berubah dari rutinitas ini adalah terganggunya ketertiban umum karena pemasangan atribut dan bendera partai tidak mengindahkan tempat dan terkesan asal-asalan.

Bagi para caleg, waktu penyelenggaraan pemilu yang semakin mepet membuat mereka semakin aktif mempromosikan dirinya melalui berbagai kegiatan. Di lubuk linggau misalnya, menghadiri acara pernikahan menjadi acara yang wajib bagi para caleg untuk hadir karena di acara seperti ini lah kesempatan mereka untuk lebih dikenal oleh orang banyak. Penentuan lolos tidaknya seorang caleg dengan suara terbanyak tampaknya juga memacu semangat para caleg untuk giat mempromosikan diri mereka untuk bersaing dengan caleg lainnya, yang ada dalam satu partai sekalipun.

Berbagai persiapan yang telah dilakukan bertujuan demi suksesnya pemilu 2009. Namun, di balik itu semua ada satu masalah-jika tidak bisa disebut sebagai ancaman-bagi suksesnya pemilu 2009 ini, yaitu perkiraan akan tingginya angka golput atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Perkiraan ini didasarkan atas tingginya angka golput pada penyelenggaraan pilkada di sebagian besar daerah di Indonesia. Angka golput rata-rata mencapai 30% dan bahkan ada daerah yang apabila golput diikutsertakan sebagai calon kepala daerah, dia lah yang akan menjadi pemenangnya, seperti yang terjadi pada pilihan gubernur jawa tengah beberapa waktu lalu.

Banyak hal-dalam pandangan saya sendiri-yang menyebabkan para pemilih tidak menggunakan hak pilihnya dari penyebab yang sepele sampai penyebab lain yang bisa disebut cukup idealis. Penyebab yang sepele yaitu keengganan memilih karena membayangkan alangkah repotnya pada saat membuka kertas suara yang begitu besar karena berisikan 38 partai ditambah lagi dengan gambar para caleg masing-masing partai yang juga tidak kalah banyaknya. Alasan lain terjadinya golput adalah karena adanya himbauan dari seorang tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat. Kita mungkin pernah mendengar ada tokoh nasional yang pernah memberikan ancaman bahwa dia akan menyuruh para pengikutnya yang berjumlah besar untuk tidak menggunakan suaranya pada pemilu kali ini apabila partainya tidak lolos pada saat verifikasi parpol oleh KPU. Bagi sebagian besar masyarakat-termasuk saya-mungkin menganggap bahwa pernyataan hanya omong kosong belaka. Namun, bagi kalangan tertentu yang menjadi pengikut setia tokoh ini, pernyataan seperti ini bisa menjadi sugesti bagi mereka untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Sedangkan alasan yang saya sebut sebagai alasan yang idealis adalah tidak adanya partai yang layak untuk dipilih pada pemilu mendatang. Lho kok? Kan partai peserta pemilu ada 38 partai dan itu merupakan jumlah yang besar. Memang, jumlah partai peserta pemilu banyak tetapi cara kerja mereka bisa dibilang sama, nyaris tidak ada perbedaan. Tidak ada partai yang berani menawarkan gebrakan-gebrakan baru yang inovatif. Banyak partai masih bergelut dengan isu-isu lama antara lain sekolah gratis, sembako gratis, dan berbagai gratisan lainnya. Bahkan, ada partai yang menonjolkan prestasi mereka capai-yang menurut saya belumlah pantas untuk dibanggakan dan bukan menjadi monopoli mereka sendiri-selama periode pemerintahan kali ini. Suatu hal tidak “cerdas” tentunya bagi sebuah partai yang banyak dihuni oleh kumpulan orang cerdas di dalamnya.

Berbagai hal di atas menurut saya berpotensi meningkatkan jumlah golput pada pemilu yang akan datang. Ketakutan akan tingginya angka golput ini memunculkan kekhawatiran sejumlah parpol yang takut kehilangan banyak suara pada pemilu mendatang. Beberapa upaya untuk mencegah golput pun dilakukan. Majelis Ulama Indonedia (MUI) bahkan harus turun tangan dengan memberikan fatwa haram untuk golput, suatu fatwa yang menurut saya terlalu berlebihan dan bukan sesuatu yang harus menjadi perhatian bagi sebuah ormas keagamaan. Seharusnya semua elemen masyarakat bisa memahami bahwa memilih dalam pemilu merupakan sebuah hak bagi tiap-tiap orang. Ya… hak. Kalau hak berarti terserah dari setiap orang untuk menggunakan atau tidak hak pilih yan mereka punya. Orang yang tidak menggunakan hak pilihnya bukan berarti orang yang tidak peduli dengan nasib bangsa ke depan. Menurut saya ini adalah pandangan yang keliru. Peduli atau tidaknya seseorang dengan nasib bangsa mereka bukan hanya tergantung pada partisipasi mereka dalam pemilu saja, tetapi juga pada hal-hal lain dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, kesimpulan dari semua itu adalah biarkan lah masyarakat menentukan hak pilih mereka, tidak perlu ada intervensi atau pun cara-cara lain yang memaksa seseorang untuk menggunakan hak pilihnya karena tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan. **sekian**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s